Rencana Nadiem Buka Sekolah Pada Pertengahan 2021 Dianggap Tergesa-gesa

Rencana Nadiem Buka Sekolah Pada Pertengahan 2021 Dianggap Tergesa-gesa

Barricadaonline – Satriwan Salim, Koordinator Nasional Persatuan Pendidikan dan Guru (P2G), menilai rencana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadi Makarim membuka semua sekolah pada pertengahan 2021 sangat tergesa-gesa. Keputusan tersebut dinilai terlalu dini untuk diambil.

“Kita berharap Presiden Pak atau Mas Nadi Makarim bisa memvaksinasi guru dan tenaga pengajar, saya kira terlalu prematur. Mengapa saya mengatakan itu? Sebulan? Sementara itu, kita berpuasa dari bulan April sampai Mei ya? ”Ujarnya. Hal ini menyusul pernyataan Nadiemov Senin (3.21) yang fokus pada vaksinasi selesai guru dan dosen pada Juni 2021. Tujuan dari vaksinasi ini adalah untuk mempercepat pembukaan sekolah pada tahun ajaran baru pada pertengahan tahun 2021. Selain itu, menurut Satriwan Salim, masih banyak guru di daerah dan kota yang belum mendapat informasi tentang vaksinasi. Ia menilai proses vaksinasi guru lambat. Oleh karena itu, lima juta guru yang divaksinasi pada pertengahan tahun ini akan sulit dijangkau. Seandainya semua guru divaksinasi, Satriwan menanyakan seberapa aman siswa di sekolah tersebut karena belum divaksinasi Covid-19. Vaksin Covid-19 untuk anak-anak belum tersedia. “Makanya orang tua dan guru justru bertanya, apakah aman membuka sekolah kalau guru dan tenaga pengajar divaksinasi dan bukan siswanya?” Ujarnya. Satriwan mengenang, saat sekolah dibuka, guru dan pendidik aman, sedangkan siswa tidak divaksinasi Covid-19. “Padahal mahasiswa kesana dan kembali naik angkutan umum, namun berpotensi menularkannya, kalau tidak akan tertular,” jelasnya.

Menurut dia, jika pemerintah memutuskan membuka semua sekolah pada pertengahan tahun ini, sistemnya pasti berbeda. Sekolah pasca pandemi harus mengadopsi pengaturan adat baru (AKB), seperti penerapan proky yang ketat.

“Jadi tidak gratis, seperti dulu kita bersekolah dan diharuskan tampil AKB. Apa itu AKB? Kamu harus pakai topeng. Dulu kita bisa bebas pakai topeng atau tidak,” sekarang wajib. Kedua, harus ada heat gun untuk mengontrol suhu seluruh tubuh. Warga sekolah, yang ketiga tempat cuci tangan, ”ucapnya. Oleh karena itu, menurut Satriwan, jika bertekad untuk belajar secara langsung, sekolah harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana untuk mendukung penyelenggaraan program kesehatan bagi warga sekolah. “Harus hati-hati saat buka sekolah, jadi saya bilang terlalu sembrono. Tidak masalah mencapai 70 persen imunitas kawanan, sampai Juni bisa mencapai lima juta (yang sudah divaksinasi), saya ragu,” pungkasnya.

Sementara itu, Leman, salah satu wali siswa di Kabupaten Cirebon, mengungkapkan ketidaksiapannya jika harus membiarkan adiknya kembali bersekolah dalam situasi seperti itu. Kalaupun semua guru divaksinasi, bukan berarti sekolah terlindungi dari penyebaran Covid-19. “Saya belum siap, kami bilang efektivitas vaksin kita baru 60 persen. Jadi meski guru sudah divaksinasi, masih ada potensi penularan,” kata Leman. Menurutnya, jika transfer rate masih tinggi, pihaknya belum yakin akan membiarkan adiknya yang masih duduk di kelas 5 SD itu kembali bersekolah secara tatap muka. Menurut Leman, pembukaan sekolah hanya bisa dilakukan jika jumlah kasus sudah berkurang signifikan. “Ya kalau sudah aman bisa dibuka kalau jumlah orang yang tertular turun drastis,” jelas Leman. Hal senada dikatakan Imad, salah satu wali siswa SMA swasta di Kota Bogor. Imad mengatakan membuka sekolah dalam situasi pandemi Covid-19 yang masih fluktuatif dianggap tidak tepat.

“Vaksinasi tidak dijamin, jadi tunggu sampai kasusnya mereda. Kalaupun dibuka Juli, saya kira kasusnya masih tinggi mengingat kondisi seperti itu,” kata Imad. Mulki Hakim mengucapkan nada berbeda. Wali siswa SD Kabupaten Pangandaran ini mengaku tidak masalah jika pemerintah membuka sekolah pada pertengahan tahun 2021. Asalkan dibarengi dengan penerapan prokes yang ketat di sekolah. “Iya, dari segi pro dan kontra ya. Meski pandemi masih belum usai, untuk sementara tidak apa-apa,” kata Mulki.

Sumber: https://www.sukabuminewsupdate.com/